Penjelajahan Dr. Jureynolds pada Mesin Presisi dan Seni Muda di Pendidikan Tinggi Kaohsiung

Apa yang dapat dipelajari BINUS dari kampus teknik dan seni di Taiwan?

Pada tanggal 5-6 Desember 2025 di Kaohsiung, Dr. Jureynolds mencari jawaban tersebut secara langsung. Penanggung jawab Program Kajian Taiwan BINUS University tersebut berkunjung ke National Kaohsiung University of Science and Technology (NKUST) di Taiwan. Selama dua hari, beliau bertukar pandangan dengan sekitar 40 peserta dari NKUST dan perguruan tinggi mitra dari Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, serta negara lain.

Mengunjungi Dapur Teknologi Manufaktur Taiwan

Salah satu agenda utama penjelajahan ini adalah kunjungan ke Pusat Teknologi Pembentukan Material Maju (Advanced Materials Forming Technology Center) NKUST. Di sana, Dr. Jureynolds berdiskusi pengembangan teknologi, kerja sama industri-akademia, dan pengembangan penelitian dengan tim pusat. Dari kegiatan kunjungan ini, terlihat gambaran mengenai model pendidikan tinggi teknik dan vokasi Taiwan dalam manufaktur maju, kerja sama dengan industri, dan penerapan teknologi.

Kampus Sekaligus Galeri Seni

Tidak hanya dari segi teknologi, penjelajahan ini juga menyentuh sisi seni. Dr. Jureynolds menghadiri beberapa acara, seperti Pameran Koleksi Penghargaan Seni Muda (Qingyi Awards) dari NKUST 2025 dan kegiatan seni muda terkait. Hal ini menjadi titik awal bagi Dr. Jureynolds dalam mempelajari bagaimana NKUST mendorong pendidikan estetika kampus dan pelestarian warisan budaya melalui penyeleksian, pengarsipan, dan pameran karya seni. Mekanisme pengarsipan dan pameran karya yang diamati tersebut memunculkan gagasan baru, yaitu penerapan dan kerja sama Taiwan-Indonesia pada bidang kearsipan digital, pelestarian sumber daya budaya, dan penelitian humaniora digital.

3 Hasil Pekerjaan dari Perjalanan Dua Hari

Pertama, memperdalam pertukaran pengalaman pendidikan tinggi dan pengembangan penelitian Taiwan melalui pemahaman tentang model Taiwan dalam pendidikan vokasi, manufaktur maju, dan kolaborasi industri akademik. Hal ini menjadi rujukan bagi BINUS University untuk mendorong penelitian lintas disiplin dan kerja sama internasional di masa yang mendatang. Kedua, semakin terbukanya kerja sama kearsipan digital dan humaniora digital, terutama terkait dengan praktik universitas Taiwan dalam pengarsipan, pameran, dan promosi budaya karya seni muda yang dikaitkan dengan penelitian humaniora digital. Keterkaitan praktik tersebut membangun landasan kerja sama pelestarian warisan budaya di masa depan. Ketiga, jaringan akademik internasional bagi kolaborasi penelitian dan pertukaran talenta yang meluas hingga Asia Tenggara, dipertemukan melalui perwakilan akademik dari Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan negara lain.

Kunjungan ini memperlihatkan bahwa kerja sama internasional dapat bertumbuh dari ruang laboratorium hingga ruang pameran seni. Dari kunjungan ini, BINUS University membawa pulang bekal gagasan untuk memperkuat hubungan akademik dengan Taiwan.

 

 

Jonathan Sebastian Gani