Tanam Mangrove, Tanam Harapan: Mahasiswa Global Business Chinese Binus University Turun ke Lapangan

Pada hari Selasa, 18 November 2025, hujan baru saja mereda ketika sekelompok mahasiswa Binus University dari program studi Global Business Chinese menginjakkan kaki di tepian kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Bukan untuk sekadar berfoto atau menjadi penonton, melainkan untuk terjun langsung ke dalam kegiatan penanaman bibit mangrove di hamparan lumpur yang dalam dan licin. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Environmental and Social Service Experience (ESSE), yang merupakan sebuah pengalaman belajar di luar kelas yang dirancang untuk menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap isu lingkungan dan sosial.

Menunggu Hujan, Lalu Nyemplung

Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB. Namun mereka tidak langsung turun ke area tanam. Hujan yang baru saja berlalu membuat arus sungai di sekitar lokasi cukup kencang dan kedalaman lumpur bertambah. Mereka memilih menunggu situasi lebih kondusif dan sekitar pukul 16.00 WIB seluruh peserta mulai menyusuri lumpur menuju titik penanaman. Setiap mahasiswa mendapat tanggung jawab menanam dua bibit mangrove dengan bantuan kakak-kakak pendamping yang sekaligus mendokumentasikan seluruh kegiatan.

”Awalnya, saya merasa sangat tidak nyaman karena jalannya licin dan tidak rata, ada kayu-kayu kecil yang menancap dan juga binatang. Tapi lama-kelamaan saya mulai beradaptasi dan menjadi seru juga.”  Sherell Patricia (2902639725)

Lebih dari Sekadar Menanam

Banyak mahasiswa menganggap bahwa kegiatan seperti ini adalah pengalaman pertama mereka bersentuhan langsung dengan ekosistem mangrove. Sebelumnya, pengetahuan mereka tentang mangrove hanya sebatas teori di dalam kelas, yaitu bahwa mangrove berfungsi sebagai penjaga garis pantai. Namun, setelah turun langsung ke lapangan, pemahaman itu berkembang jauh lebih dalam. Salah satu peserta bernama Dylan Christovan, mengungkapkan bahwa pengalaman ini mengubah cara pandangnya tentang tindakan sederhana. Menurut Dylan, menanam satu bibit terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama akan membawa dampak yang sangat nyata bagi lingkungan.

”Sebelumnya, saya hanya tahu bahwa mangrove berfungsi sebagai penjaga pesisir pantai. Namun ternyata mangrove memiliki banyak manfaat seperti menjaga kualias air, mengurangi dampak abrasi, dan menjadi habitat bagi berbagai biota laut.” Valencia Budiman Lim (2902610812)

Kolaborasi di Tengah Kesulitan

Dengan kondisi di lapangan berlumpur yang bisa mencapai hampir selutut, air yang masih meninggi setelah hujan, dan nyamuk yang mengerubungi membuat kegiatan menjadi tidak mudah. Akan tetapi, semua itu menjadi bagian dari pengalaman yang justru mempererat rasa kebersamaan. Para mahasiswa saling berpegangan agar tidak terpeleset, saling menyemangati, dan tertawa bersama di tengah kesulitan.

”Kami saling membantu, tertawa bersama, dan menikmati prosesnya. Kegiatan ini memperkuat kerja sama dan rasa peduli terhadap lingkungan.” Jason Blaze Zakaria (2902636654)

”Bekerja bersama teman-teman membuat aku menyadari bahwa upaya menjaga alam tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dan kesadaran bersama.”  Vania (2902642625)

Realita yang Membuka Mata

Di balik keseruan kegiatan ini, para mahasiswa juga dihadapkan pada kenyataan yang mengusik. Di sekitar lokasi penanaman, masih terlihat banyak sampah yang dibuang sembarangan oleh warga sekitar. Violin mencatat hal ini dalam refleksinya, menegaskan bahwa satu kegiatan penanaman saja tidak cukup. Edukasi dan pembiasaan diri yang berkelanjutan diperlukan untuk membangun kesadaran masyarakat yang lebih luas.

”Kegiatan ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan belum merata. Edukasi dan pembiasaan menjaga lingkungan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan melalui satu kegiatan saja.” Violin Rahardian (2902642663)

Makna yang Dibawa Pulang

Ketika sore mulai beranjak gelap dan rombongan kembali ke daratan dengan pakaian berlumpur dan sepatu yang berat, ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan hanya lelah fisik, tetapi rasa puas yang sulit dijelaskan. Julia Pink, yang mengaku baru pertama kali mengunjungi hutan mangrove sekaligus menanam di sana, menggambarkannya sebagai pengalaman yang “sangat dalam” dimana ia bisa berkontribusi nyata sekaligus membangun kenangan bersama teman-teman kuliah. Lintang Davi Pramudyawardani merefleksikan bahwa pengalaman ini mengajarkannya bagaimana cara menanam pohon ataupun tanaman yang dapat memproduksi udara yang sehat dan bebas polusi.

Jonathan Sebastian Gani