Digital Humanities dan Keberlanjutan

Pertanyaan benang merah ”di era digital ini, bagaimana humaniora ikut menjaga bumi?” ini menjadi topik pembicaraan dari acara Konferensi Internasional Humaniora Digital dan Keberlanjutan Lingkungan 2025 yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 2025 di BINUS Kemanggisan Kampus Anggrek, Jakarta. Selama dua hari, empat sesi yang masing-masing berdurasi 2 jam dihadiri oleh 1,500 peserta, menghadirkan para akademisi dari Taiwan, Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Mempersatukan Teknologi, Budaya, dan Alam dalam Satu Tema
Tema ”Sustainability in the Digital Age: Rethinking Humanities, Digitalization, and the Environment” menjadi identitas dari konferensi yang diselenggarakan oleh BINUS University dan Universitas Brawijaya. Dari tema tersebut, peserta diajak untuk menelaah hubungan antara transformasi digital, humaniora digital, dan keberlanjutan lingkungan yang merupakan tiga isu yang sering berkaitan dengan kehidupan masa kini. Melalui pidato utama, presentasi akademik, dan diskusi lintas disiplin, para akademisi dari empat negara saling berbagi pengalaman dan bertukar pikiran dalam penelitian humaniora digital dan pembangunan bekelanjutan.

Sorotan dari Taiwan
Prof. Hsiang Jieh (項潔), akademisi dari pihak Taiwan, hadir sebagai pembicara utama. Beliau membawakan pengalaman penelitian humaniora digital Taiwan semakin masuk ke dalam ranah akademik internasional di Indonesia. Konferensi ini diselenggarakan dengan dukungan dari Kanto Ekonomi dan Dagang Taipei (TETO) di Indonesia, National Taiwan University (NTU), dan Program Kajian Taiwan Kementerian Pendidikan Republik Tiongkok (Taiwan).

Peluang Baru bagi Akademisi Asia Tenggara
Dengan adanya pertukaran antara akademisi Taiwan, Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat, metode penelitian ini dan pengalaman perkembangan humaniora digital Taiwan ke lingkungan akademik internasional di Asia Tenggara semakin diperkenalkan. Hal ini memberi dampak bagi para peneliti dari berbagai negara semakin mengenal secara luas perkembangan humaniora digital Taiwan dan jaringan akademik internasional Kajian Taiwan. Kerja sama antara Taiwan dan Indonesia di bidang humaniora digital dan penelitian lintas disiplin juga semakin erat.

Dari Sorotan Konferensi Menjadi Transparansi Publik
Tidak berhenti di ruang konferensi, terdapat berbagai media arus utama di Indonesia yang meliput kegiatan ini dengan sorotan pada kerja sama akademik Taiwan-Indonsia, humaniora digital, dan isu pembangunan berkelanjutan. Liputan tersebut membawa hasil penelitian dan kerja sama dari kedua pihak komunitas akademik kepada masyarakat umum Indonesia, sehingga terdapat peningkatan dalam pengaruh publik Kajian Taiwan serta kerja sama akademik internasional Taiwan. Konferensi ini menjadi penegasan dari BINUS University dalam perannya sebagai tuan rumah dialog global, dimana teknologi, humaniora, dan keberlanjutan yang dipertemukan menjadi satu kesatuan.

Jonathan Sebastian Gani